Fish

Selasa, 20 Maret 2012

ASKEP TRAUMA KEPALA


BAB I
P E N D A H U L U A N

A.      LATAR BELAKANG
Menurut Barell, Heruti, Abargel dan Ziv (1999), sebanyak 1465 korban mengalami trauma kepala, sedangkan 1795 korban mengalami trauma yang multipel dalam penelitian di Israel. Kecederaan multipel berkaitan dengan keparahan dan ia adalah asas dalam mendiagnosa gambaran keseluruhan kecederaan. Dengan merekam seluruh kecederaan yang dialami oleh korban, ia dapat membantu dalam mengidentifikasi kecederaan yang sering mengikut penyebab trauma pada korban.
Trauma Murni adalah apabila korban didiagnosa dengan satu kecederaan pada salah satu regio atau bagian anatomis yang mayor (Barell, Heruti, Abargel dan Ziv, 1999).
Trauma multipel atau politrauma adalah apabila terdapat 2 atau lebih kecederaan secara fisikal pada regio atau organ tertentu, dimana salah satunya bisa menyebabkan kematian dan memberi impak pada fisikal, kognitif, psikologik atau kelainan psikososial dan disabilitas fungsional. Trauma kepala paling banyak dicatat pada pasien politrauma dengan kombinasi dari kondisi yang cacat seperti amputasi, kelainan pendengaran dan penglihatan, post-traumatic stress syndrome dan kondisi kelainan jiwa yang lain (Veterans Health Administration Transmittal Sheet). Ada beberapa trauma yang sering terjadi yaitu:
1.      Trauma servikal, batang otak dan tulang belakang
Trauma yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas, jatuh dari tempat yang tinggi serta pada aktivitas olahraga yang berbahaya boleh menyebabkan cedera pada beberapa bagian ini.

2.      Trauma toraks
Trauma toraks bisa terbagi kepada dua yaitu cedera dinding toraks dan
cedera paru.
3.      Trauma abdominal
Trauma abdominal terjadi apabila berlaku cedera pada bagian organ dalam dan bagian luar abdominal
4.      Trauma tungkai atas
Trauma tungkai atas adalah apabila berlaku benturan hingga menyebabkan cedera dan putus ekstrimitas. Cedera bisa terjadi dari tulang bahu, lengan atas, siku, lengan bawah, pergelangan tangan, jari-jari tangan serta ibu jari.
5.      Trauma tungkai bawah
Kecederaan yang paling sering adalah fraktur tulang pelvik. Cedera pada bagian lain ekstrimitas bawah seperti patah tulang femur, lutut atau patella, ke arah distal lagi yaitu fraktur tibia, fraktur fibula, tumit dan telapak kaki (James, Corry dan Perry, 2000).











BAB II
P E M B A H A S A N
(TINJAUAN TEORITIS)
A.      PENGERTIAN
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak (Sastrodiningrat, 2009).
Menurut Brain Injury Association of America, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik (Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006).

B.       JENIS TRAUMA KEPALA
Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area) dimana terjadi trauma (Sastrodiningrat, 2009). Cedera yang tampak pada kepala bagian luar terdiri dari dua, yaitu secara garis besar adalah trauma kepala tertutup dan terbuka. Trauma kepala tertutup merupakan fragmen-fragmen tengkorak yang masih intak atau utuh pada kepala setelah luka. The Brain and Spinal Cord Organization 2009, mengatakan trauma kepala tertutup adalah apabila suatu pukulan yang kuat pada kepala secara tiba-tiba sehingga menyebabkan jaringan otak menekan tengkorak.
Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah menembus sampai kepada dura mater. (Anderson, Heitger, and Macleod, 2006). Kemungkinan kecederaan atau trauma adalah seperti berikut:



a)      Fraktur
Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat 4 jenis fraktur yaitu simple fracture, linear or hairline fracture, depressed fracture, compound fracture.

Pengertian dari setiap fraktur adalah sebagai berikut:
Simple : retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit
Linear or hairline: retak pada kranial yang berbentuk garis halus tanpa depresi, distorsi dan ‘splintering’.
Depressed: retak pada kranial dengan depresi ke arah otak.
Compound : retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural (Duldner, 2008).

Terdapat jenis fraktur berdasarkan lokasi anatomis yaitu terjadinya retak atau kelainan pada bagian kranium. Fraktur basis kranii retak pada basis kranium. Hal ini memerlukan gaya yang lebih kuat dari fraktur linear pada kranium. Insidensi kasus ini sangat sedikit dan hanya pada 4% pasien yang mengalami trauma kepala berat (Graham and Gennareli, 2000; Orlando Regional Healthcare, 2004). Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan fraktur basis kranii yaitu rhinorrhea (cairan serobrospinal keluar dari rongga hidung) dan gejala raccoon’s eye (penumpukan darah pada orbital mata). Tulang pada foramen magnum bisa retak sehingga menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah. Fraktur basis kranii bisa terjadi pada fossa anterior, media dan posterior (Garg, 2004).
Fraktur maxsilofasial adalah retak atau kelainan pada tulang maxilofasial yang merupakan tulang yang kedua terbesar setelah tulang mandibula. Fraktur pada bagian ini boleh menyebabkan kelainan pada sinus maxilari (Garg, 2004).

b)      Luka memar (kontosio)
Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital. Kontusio yang besar dapat terlihat di CT-Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) seperti luka besar. Pada kontusio dapat terlihat suatu daerah yang mengalami pembengkakan yang di sebut edema. Jika pembengkakan cukup besar dapat mengubah tingkat kesadaran (Corrigan, 2004).

c)      Laserasi (luka robek atau koyak)
Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. Luka ini biasanya terjadi pada kulit yang ada tulang dibawahnya pada proses penyembuhan dan biasanya pada penyembuhan dapat menimbulkan jaringan parut.

d)     Abrasi
Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial. Luka ini bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak ujung-ujung saraf yang rusak.

e)      Avulsi
Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah kecederaan (Mansjoer, 2000).

C.      ETIOLOGI
Menurut Brain Injury Association of America, penyebab utama trauma kepala adalah karena terjatuh sebanyak 28%, kecelakaan lalu lintas sebanyak 20%, karena disebabkan kecelakaan secara umum sebanyak 19% dan kekerasan sebanyak 11% dan akibat ledakan di medan perang merupakan penyebab utama trauma kepala (Langlois, Rutland-Brown, Thomas, 2006).
Kecelakaan lalu lintas dan terjatuh merupakan penyebab rawat inap pasien trauma kepala yaitu sebanyak 32,1 dan 29,8 per100.000 populasi. Kekerasan adalah penyebab ketiga rawat inap pasien trauma kepala mencatat sebanyak 7,1 per100.000 populasi di Amerika Serikat ( Coronado, Thomas, 2007). Penyebab utama terjadinya trauma kepala adalah seperti berikut:

a.       Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain sehingga menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada pengguna jalan raya (IRTAD, 1995).

b.      Jatuh
Menurut KBBI, jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika masih di gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah.
c.       Kekerasan
Menurut KBBI, kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal atau perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau orang lain (secara paksaan).

Beberapa mekanisme yang timbul terjadi trauma kepala adalah seperti translasi yang terdiri dari akselerasi dan deselerasi. Akselerasi apabila kepala bergerak ke suatu arah atau tidak bergerak dengan tiba-tiba suatu gaya yang kuat searah dengan gerakan kepala, maka kepala akan mendapat percepatan (akselerasi) pada arah tersebut.
Deselerasi apabila kepala bergerak dengan cepat ke suatu arah secara tiba-tiba dan dihentikan oleh suatu benda misalnya kepala menabrak tembok maka kepala tiba-tiba terhenti gerakannya. Rotasi adalah apabila tengkorak tiba-tiba mendapat gaya mendadak sehingga membentuk sudut terhadap gerak kepala. Kecederaan di bagian muka dikatakan fraktur maksilofasial (Sastrodiningrat, 2009).

D.       KARAKTERISTIK PENDERITA TRAUMA KEPALA
1.      Jenis Kelamin
Pada populasi secara keseluruhan, laki-laki dua kali ganda lebih banyak mengalami trauma kepala dari perempuan. Namun, pada usia lebih tua perbandingan hampir sama. Hal ini dapat terjadi pada usia yang lebih tua disebabkan karena terjatuh. Mortalitas laki-laki dan perempuan terhadap trauma kepala adalah 3,4:1 (Jagger, Levine, Jane et al., 1984).
Menurut Brain Injury Association of America, laki-laki cenderung mengalami trauma kepala 1,5 kali lebih banyak daripada perempuan (CDC, 2006).

2.      Umur
Resiko trauma kepala adalah dari umur 15-30 tahun, hal ini disebabkan karena pada kelompok umur ini banyak terpengaruh dengan alkohol, narkoba dan kehidupan sosial yang tidak bertanggungjawab (Jagger, Levine, Jane et al., 1984).
Menurut Brain Injury Association of America, dua kelompok umur mengalami risiko yang tertinggi adalah dari umur 0 sampai 4 tahun dan 15 sampai 19 tahun (CDC, 2006).

E.       GEJALA KLINIS TRAUMA KEPALA
Gejala klinis trauma kepala adalah seperti berikut:
a. Battle sign (warna biru atau ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid)
b. Hemotipanum (perdarahan di daerah menbran timpani telinga)
c. Periorbital ecchymosis (mata warna hitam tanpa trauma langsung)
d. Rhinorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari hidung)
e. Otorrhoe (cairan serobrospinal keluar dari telinga)
Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan:
a.       Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat kemudian sembuh.
b.      Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan.
c.       Mual atau dan muntah.
d.      Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun.
e.       Perubahan keperibadian diri.
f.       Letargik.

Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat:

a.       Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di otak menurun atau
Meningkat.
b.      Perubahan ukuran pupil (anisokoria).
c.       Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan).
d.      Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan atau posisi abnormal ekstrimitas.
F.       PATOFISIOLOGI
Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula de­ngan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg%, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi serebral.
Faktor kardiovaskuler
n  Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema paru.
n  Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini menyebabkan penurunan curah jantung dan meningkatkan tekanan atrium kiri. Akibatnya tubuh berkompensasi dengan meningkatkan tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium kiri adalah terjadinya edema paru.
Faktor Respiratori
n  Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru menyebabkan hiperpnoe dan bronkokonstriksi
n  Konsentrasi oksigen dan karbon dioksida mempengaruhi aliran darah. Bila PO2 rendah, aliran darah bertambah karena terjadi vasodilatasi. Penurunan PCO2, akan terjadi alkalosis yang menyebabkan vasokonstriksi (arteri kecil) dan penurunan CBF (cerebral blood fluid).
n  Edema otak ini menyebabkan kematian otak (iskemik) dan tingginya tekanan intra kranial (TIK) yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan batang otak atau medulla oblongata.
Faktor metabolisme
n  Pada trauma kepala terjadi perubahan metabolisme seperti trauma tubuh lainnya yaitu kecenderungan retensi natrium dan air dan hilangnya sejumlah nitrogen
n  Retensi natrium juga disebabkan karena adanya stimulus terhadap hipotalamus, yang menyebabkan pelepasan ACTH dan sekresi aldosteron.
Faktor gastrointestinal
n  Trauma kepala juga mempengaruhi sistem gastrointestinal. Setelah trauma kepala (3 hari) terdapat respon tubuh dengan merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal. Hal ini akan merangsang lambung menjadi hiperasiditas.
Faktor psikologis
n  Selain dampak masalah yang mempengaruhi fisik pasien, trauma kepala pada pasien adalah suatu pengalaman yang menakutkan. Gejala sisa yang timbul pascatrauma akan mempengaruhi psikis pasien. Demikian pula pada trauma berat yang menyebabkan penurunan kesadaran dan penurunan fungsi neurologis akan mempe­ngaruhi psikososial pasien dan keluarga.
G.      KOMPLIKASI
Komplikasi pada trauma kepala terbuka adalah:
-          Infeksi
-          Meningitis dan
-          Perdarahan / serosanguinis.
H.      PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
X-Ray tengkorak
CT-Scan
Angiografi
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengajian
a.       Identitas Pasien
            Nama               :                                   Alamat                                    :
            Umur               :                                   Diagnosa Medik          :
            Pendidikan      :                                   Tanggal Masuk            :
            Pekerjaan         :                                   tanggal Pengkajian      :
b.      Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian.
c.       Data fisik
1.      Aktifitas atau istirahat
·         Adanya kelemahan , kaku, hilang keseimbangan
·         Kesadaran menurun, kelemahan otot/spasma.
2.      Peredaran darah/sirkulasi
·         TD normal / berubah (hipertensi), N (bradikardi, takikardi, disritmia)
3.      Eliminasi
·         Verbal dapat menahan BAK dan BAB
·         Blader dan bowel Incontentia
4.      Makanan/cairan
·         Mual atau muntah
·         Muntah yang memancar, masalah kesukaran menelan
5.      Persarafan/Neurosensori
·         Pusing, kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian
6.      Kenyamanan/Nyeri
·         Nyeri kepala yang bervariasi tekanan dan lokasi nyerinya, agak lama.
7.      Pernapasan
·         Perubahan pola napas, stridor, ronchi.
8.      Pengkajian keamanan
·         Ada riwayat kecelakaan,
·         Terdapat trauma/fraktur/distorsi, perubahan penglihatan, kulit.
9.      Konsep diri
·         Adanya perubahan tingkah laku
·         Kecemasan, berdebar, bingung, dellirium
10.  Interaksi social
·         Afasia motorik/sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang
2. Rencana Asuhan Keperawatan
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Nyeri b/d trauma kepala
Pasien akan merasa nyaman dgn k/h pasien tidak mengeluh nyeri, dan tanda-tanda vital dalam batas normal
1) kaji keluhan nyeri dengan menggunakan skala nyeri.

2) Mengatur posisi sesuai kebutuhan anak untuk mengurangi nyeri.

3) Kurangi rangsangan.


4) Pemberian obat analgetik sesuai dengan program
5) Ciptakan lingkungan yang nyaman termasuk tempat tidur.
6) Berikan sentuhan terapeutik, lakukan distraksi dan relaksasi.

1.  mengkaji skala nyeri u/ mengetahui seberapa nyeri yang dialami pasien
2.   posisi yang sesuai akan mengurangi nyeri pada pasien.


3.  rangsangan akan membuat nyeri lebih terasa
4.  obat analgetik digunakan untuk mengrangi rasa nyeri
5.   lingkungan yang nyaman akan membuat pasien  terasa lebih nyaman
6.   sentuhan terapeutik dapat mengurangi rasa nyeri
2
Resiko tidak efektifnya jalan nafas dan tidak efektifnya pola nafas b/d gagal nafas, adanya sekresi, gangguan fungsi pergerakandan meningkatnya tekanan intrakranial
Pola nafas dan bersihan jalan nafas efektif dgn K/h tidak ada sesak atau kesukaran bernafas, jalan nafas bersih, dan pernafasan dalam batas normal
1.    kaji airway, breathing, circulasi.
2.    kaji klien, apakah ada fraktur servikal dan veterbra. Bila ada hindari memposisikan kepala ekstensi dan hati-hati dalam mengatur posisi bia ada cidera veterbra.
3.    pastikan jalan nafas tetap terbukan dan kaji adanya secret. Bila ada secret segera lakukan pengisapan lendir.
4.     kaji penafasan kedalamannya, usaha dalam bernafas

5.     bila tidak ada frktur sevikal berikan posisi kepala sedikit ekstensi dan tinggikan 15-30 derajat
6.    Pemberian oksigen sesuai program
1.  untuk mengetahui pernafasan pasien
2.  posisi yang salah pd pasien fraktur akan membuat pasien tidak nyaman dan sedikit kesulitan dlm bernafas



3.  pengisapan lendir dilakukan untuk mempermudah jaan nafas


4.  status pernapasan dikaji untuk mengetahui pola nafas pasien
5.  posisi dengan kepala sedikit ekstensi akakn membuat pasien bernapas dengan baik


6.   pemberian oksigen untuk memenuhi kebutuhan oksigen pasien
3
Resiko berkurangnya volume cairan b/d mual dan muntah
Tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan volume cairan atau dehidrasi yang dgn k/h membrane mukosa lembab integritas kulit baik, dan nilai elektrolit dalam batas normal
1.  kaji intake dan out put

2.   kaji tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membrane mukosa, dan ubun-ubun atau mata cekung dan out put urine.
3.  Berikan pasien banyak minum

4.   berikan cairan intra vena sesuai program
1.    untuk mengetahui intake dan out put cairan pasien
2.    mengetahui tanda-tanda jika pasien mengalami dehidrasi




3.    banyak minum untuk mengganti cairan yang hilang
4.    Untuk memenuhi cairan pasien
4
Perubahan perfusi jaringan serebral b/d edema serebral dan peningkatan tekanan intracranial
Perfusi jaringan serebral adekuat dgn k/h tidak ada pusing hebat, kesadaran tidak menurun dan tidak terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial
1.  tinggikan posisi kepala 15-30 derajat dengan posisi midline
2.  hindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intracranial
3.  pembalikan posisi dari samping ke samping

4.  bila akan dimiringkan, pasien harus menghindari adanya tekukan pada anggota badan, fleksi
5.  berikan pelembek tinja

6.  ciptakan lingkungan yang tenang


7. pemberian obat-obatan sesuai program



8. lakukan pemasangan NGT bila indikasi untuk mencegah aspirasi dan pemenuhan nutrisi
1.    untuk menurunkan tekanan vena jugularis
2.    peningkatan tekanan intracranial dapat merubah perfusi jaringan serebral

3.    perubahan posisi akan memberi rasa lebih nyaman pada pasien
4.    tekukan dihindari agar tidak terjadi rasa nyeri pada pasien


5.    pelembek tinja untuk mencegah adanya valsava maneuver
6.    lingkungan yg nyaman akan memberikan rasa nyaman pada pasien
7.    obat-obatan untuk mengurangi edema/tekanan intracranial sesuai program
8.    pemasangan NGT u/ mencegah terjadinya aspirasi dan memenuhi kebutuhan nutrisi pasien

5
Kurangnya perawatan diri b/d tirah baring dan menurunnya kesadaran
Kebutuhan sehari-hari pasien terpenuhi dgn k/h BB stabil, tempat tidur bersih, tubuh pasien bersih, tidak ada iritasi pada kulit, BAB/BAK dapat dibantu
1.bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari
2.berikan makanan via parenteral bila ada indikasi

3.perawatan kateter bila terpasang

4.kaji adanya konstipasi, bila perlu pemakaian pelembek tinja untuk memudahkan BAB
5.libatkan keluarga dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1.  untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pasien

2.  makanan via parenteral untuk memenuhi nutrisi pasien
3.  kateter yang bersih akan membuat pasien lebih nyaman
4.  konstipasi akan membuat pasien tidak nyaman


5.  agar kebuthan sehari-hari pasien terpenuhi

3. Implementasi
            Implementasi dilakukan berdasarkan pengkajian diagnosa keperawatan dan intervensi
4. Evaluasi
            Evaluasi dilakukan berdasarkan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi dan implementasi



BAB 1V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak.
Pengartian yang lain, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.


Daftar pustaka
Smeltzer, Suzanne C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC, Jakarta
Arif, Mansjoer, dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculpius, Jakarta
Brunner & Suddart, 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan vol 3. EGC, Jakarta
Doengoes, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC, Jakarta
www.google/ Askep tentang cidera kepala/ases 26 desember 2008/19.20.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar